Dilema Makan Bubur Ayam, Antara Diaduk Dan Nggak Diaduk

Warung bubur ayam di daerah Cikarang(dokpri)

Pasti tahu dong kuliner yang satu ini, bisa disantap taktala sehat dan bisa dihidangkan ketika sakit mendera…apaaan tuh?
Kali ini Mang Admin mau mengulas tentang bubur ayam, tahu nggak sih bahwa di negeri yang berflower dan berkode +62 untuk kode telepon internasional, bubur ayam itu di nikmatinya menganut madzhab Tidak Diaduk dan Diaduk. Kedua madzhab terus bersikeras tentang menikmati bubur ayam.

Madzhab Tidak Diaduk acap kali berargumen bahwa kelezatan bubur itu terletak karena tidak diaduknya isian bubur yang berupa bawang goreng,irisan seledri, kacang(mang admin nggak pernah menyertakan kacang ya), kerupuk, irisan daging ayam,kecap dan juga kuah asin.

Bubur tak diaduk,madzhab yang banyak pengikutnya untuk menyantap bubur(dokpri)

 

Biarlah menikmati bubur secara apa adanya tanpa diaduk, kalau diaduk maka kenikmatan itu sirna. Namun pendapat tersebut ditentang oleh penikmat bubur Diaduk, alasan mereka, buat apa terpisah pisah jika bisa diaduk dengan satu wadah dan itulah sejatinya makan bubur.

Mang Admin sempet nyurvey kecil kecilan tentang bubur Diaduk dan tanpa diaduk, wawancara tatap muka di tempat kerjaan, hasilnya elektabilitas bubur tidak diaduk unggul tipis,mereka yang memakan bubur ayam tanpa diaduk mengungkapkan, jika bubur diaduk,bukannya tambah seru makan bubur,alih alih terlihat gimana gitu satu adonan bubur yang tercampur itu menurunkan selera makan.

Sedangkan yang pro madzhab bubur diaduk, nggak ada kenikmatan hakiki selain bubur yang diaduk, akan terasa enak pada waktunya ketika bubur tercampur sempurna.

Salah satu responden yang kebetulan die hardnya madzhab bubur diaduk mengatakan, setiap ia menikmati bubur haruslah diaduk,melihat campuran dari bubur ayam yang menyatu merupakan sensasi tersendiri, ia meyakini bahwa madzhab bubur diaduk signifikan dalam jumlah.

Perdebatan tentang bubur diaduk dan nggak diaduk dipastikan akan terus berlangsung, kecuali bila bubur ayam di dunia tidak ada di muka bumi.Tahu nggak sih, sebenarnya kedua madzhab ini adalah satu jiwa sebenarnya, mereka sama sama suka bubur.

Hanya cara mamamnya aja yang berbeda, hayo angkut lah dan angkat tangan siapa yang dukung madzhab Tak diaduk kontra diaduk, yang jelas bubur ayam emang enak dimamam saat lagi hangat buburnya,setuju?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *