Kampung Bungin Tersendat Memanen Energi Angin Dan Matahari

Disinilah peralatan untuk pembangkit energi terbarukan terpasang(dokpri)

 

Ombak memukul mukul bibir pantai, angin  yang berhembus tiada henti, satu siang yang terik di Kampung Bungin, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong dan merupakan kampung paling ujung dengan batas Laut Jawa, beberapa tower kincir terpasang di dekat pantai, ada juga panel surya, konsep energi terbarukan sepertinya menyapa Kampung Bungin. Ada juga bangunan semi permanen dua tingkat yang terbuat dari kayu dan terpampang tulisan “Bungin Tecno Village”, di atas pintu lantai dua tertulis sticker Reseach Center for Climate Change-Universitas Indonesia.

Adalah jasa Prof.Dr. Adi Surjosatyo yang merupakan dosen di Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan beberapa Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Tehnik Universitas Indonesia mengembangkan energi terbarukan berupa mengkonversi tenaga angin menjadi listrik, serta memanfaatkan panel surya dan menyuling air asin menjadi air tawar, pengelolaan listrik dari energi terbarukan ini merupakan berkah tersendiri bagi para warga yang kesehariannya sebagai petani. Meski memang listrik pasokan PLN sudah ada namun keberadaan turbin angin di daerah Kampung Bungin menjadi cerita indah tentang energi terbarukan.

Kampung Bungin dipilih menjadi pilot project karena tempat ini ideal mengolah angin karena potensi angin mencapai kisaran 1-10 m/s dan ini berarti memenuhi kebutuhan turbin angin dan menghasilkan energi listrik yang di butuhkan oleh warga masyarakat. Saat penulis mengunjungi Kampung Bungin, paling tidak ada empat tower, dua tower baling balingnya masih berputar, satu tower baling balingnya patah satu dan satu lagi tanpa baling baling.

Seliweran kabel dan juga kawat yang melintang agar tower ajeg merupakan pemandangan yang di temui ketika berada di tepi laut, suara baling baling bergemuruh di sertai deru angin yang menuju pantai, tentang energi terbarukan ini, memang pernah penduduk menikmatinya beberapa tahun lalu namun saat ini untuk memanen angina menjadi energi listrik, warga Kampung Bungin hanya bisa berharap agar turbin dan juga panel surya berfungsi kembali.

Penulis menyambangi kediaman ketua RT 01 Kampung Bungin, Bapak Yuyun, pria berkulit legam yang baru saja melaut ini bercerita tentang kincir angin dan juga yang saat ini tak bisa dipergunakan lagi, kincir memang berputar ketika angin berhembus namun energi listriknya tidak bisa terpasok, ia berharap agar para mahasiswa UI bisa kembali dan memperbaiki kincir angin dan listrik dinikmati kembali.

 

Potensi Tenaga Angin Untuk Energi Terbarukan

 Kampung Bungin yang bersahabat dengan angin, kincir pun berputar sepanjang hari(dokpri)

 

Listrik yang selama ini kita kenal merupakan energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil yakni minyak bumi dan juga batu bara, padahal angin mempunyai potensi untuk digunakan menjadi listrik, data Global Wind Energy Council di tahun 2017 menyebutkan total terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Bayu mencapai 539,123 GW. Negara negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Perancis serta Kanada mulai bergerak mengoptimpalkan energi baru dan terbarukan ini.

Indonesia yang mempunyai garis pantai sepanjang 99.093 kilo meter menurut data Badan Informasi Geospasial tentu memiliki potensi dengan memberdayakan energi terbarukan, bahkan saat ini Pembangkit Listrik Tenaga Bayu telah hadir di Sidenreng Rappang dan peresmiannya oleh Presiden RI pada 2 Juli  2018 lalu, PLTB memiliki 30 kincir angin dan memiliki kapasitas listrik sebesar 75 Mega Watt. Energi yang terbarukan ini mempunyai ketinggian 80 meter untuk tiang turbin dan mempunyai baling baling sepanjang 57 meter.

Pada hakikatnya tenaga angin memang suatu berkah bagi bangsa Indonesia, jika di optimalkan maka besar kemungkinan tenaga angin menjadi sumber energi yang bisa di andalkan di masa mendatang dan menjadi energi untuk Indonesia yang dipergunakan sebaik baiknya untuk kemashlahatan ummat.

Warga Kampung Bungin Kangen Memanen Kembali Energi Angin

Dengan menyandang kata “Bungin” sebagai nama kampung yang konon adalah akronim dari lumbung angin, potensi memanfaatkan energi terbarukan bagi warga kampung adalah keniscayaan. Pernah menikmati energi tenaga angin  ketika  ketua RT nya adalah Pak Basir, warga Kampung Bungin sangat antusias dengan upaya yang dilakukan para mahasiswa Universitas Indonesia. Tak menyangka bahwa kampung mereka terpilih sebagai tempat para mahasiswa mengembangan energi yang berasal dari tenaga bayu.

Memasuki Kampung Bungin memang diperlukan uji nyali dan menantang adrenaline, untuk mencapai lokasi yang di tuju perlu keterampilan berkendara karena sebagian besar jalan menuju Kampung Bungin rusak dan bergelombang, nggak terbayang jika musim penghujan datang mungkin akses menuju Bungin lebih sulit. Namun di balik itu semua ternyata berada di daerah pesisir dan berbatasan langsung dengan laut adalah berkah bagi warga Bungin yang pernah menikmati energi terbarukan, bahkan konsep pemanfaatan angin ini juga dilakukan pemerintahan daerah Timor Tengah Selatan.

Harapan agar turbin angin serta panel surya berfungsi kembali di utarakan dua orang remaja yang sedang kongkow di Bungin Tecno Village, dari lantai dua bangunan, terlihat standart operation producer tentang pengecekan rutin photovoltaic atau panel surya, diterangkan juga bagaimana seharusnya pengecekan rutin untuk desilinasi air asin menjadi air tawar. Bahwa di bangunan Bungin Tecno Village masih tersimpan peralatan pendukung untuk memanen energi angin maupun matahari, namun saat ini benda benda berharga itu teronggok begitu saja dan menunggu tangan terampil menggerakan kembali energi angin menjadi listrik yang diperlukan oleh warga Kampung Bungin.

 

Panel surya yang terpasang di bibir pantai Kampung Bungin(dokpri)

 

Bercermin berhasilnya Kampung Bungin memiliki panel surya dan juga kincir angin, energi baru dan terbarukan sangat mungkin di aplikasikan pada tempat tempat lain, dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki daerah terluar yang berbatasan langsung dengan laut, selayaknya memang meningkatkan kapasitas energi terbarukan menjadi pilihan seiring menipisnya cadangan energi fosil.

Pemanfaatan Ilmu Teknologi Untuk Pemberdayaan Masyarakat

Dari percakapan penulis dengan penduduk setempat, ada makna yang tersirat bahwa mereka mengucapkan terima kasih dengan kehadiran mahasiswa Universitas Indonesia yang mau mengupayakan program listrik energi terbarukan, manfaatnya begitu terasa dan berdampak langsung bagi mereka. Patut di acungi jempol untuk para penerus bangsa ini, tetap berkarya yang memberikan banyak faedah bagi masyarakat. Pada kenyataannya meski potensi energi terbarukan melimpah di Indonesia namun pemanfaatannya baru mencapai 8 %.

Hal ini menjadi acuan mahasiswa UI mengembangkan kincir angin dan di Kampung Bungin ini adalah sebagai pionir, mereka yang mengikuti Kompetisi Kincir Angin Indonesia yang di selenggarakan di Bantul, Yogyakarta pada tahun 2013 lalu. Untuk mewujudkan pemanfaatan energi terbarukan ini mereka sempat menggalang dana di kitabisa.com. Pada akhirnya kreatifitas para mahasiswa ini berbuah manis dengan hadirnya turbin angin dan juga panel surya.

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi menyebutkan bahwa ada 2.288 perguruan tinggi mendapat akreditasi A hingga C, jika saja misalnya 25% dari perguruan tinggi concern energi untuk Indonesia dan konsisten mengembangakan energi terbarukan, sangat mungkin di beberapa tahun ke depan, ketergantungan akan energi fosil lambat laut semakin berkurang, sudah saatnya ada transisi untuk energi terbarukan, namun memang sayanganya untuk hal ini hanya beberapa provinsi yang memiliki rencana umum energi daerah, dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, hanya lima daerah yang mempunyai.

Penulis adalah  warga Bekasi tentu saja apa yang dilakukan oleh para mahasiswa UI patut di apresiasi, yang diperlukan saat ini adalah transfer pengetahuan untuk melakukan perawatan terhadap turbin angin dan juga panel surya. Seperti harapan dari ketua RT 01 Kampung Bungin, Bapak Yuyun yang berharap agar turbin angin bisa beroperasi seperti tahun tahun sebelumnya. Harapan serupa juga dinginkan oleh masyarakat Kampung Bungin baik Rt 01 maupun RT 01.

Dari mahasiswa pula harapan itu ada, energi terbarukan bukanlah barang baru bagi bangsa ini, di tahun 1981 ada peraturan  bernama Kebijakan Umum Bidang Energi, untuk kekinian ada yang namanya Rencana Umum Energi Nasional dan ditandatangai presiden RI dalam Perpres Nomor 22 Tahun 2017. Jika mahasiswa bergerak dan fokus mengembangkan energi terbarukan, serta pemerintah mendukung penuh maka masyarakat jua yang menikmati hasilnya. Bahwa cakupan energi terbarukan itu bukan melulu dari sinar matahari ataupun angin, kotoran sapi pun bisa menjadi biogas.

Menunggu inovasi inovasi yang dihasilkan mahasiswa, bahwa slogan Energi Untuk Indonesia akan semakin bergema, di mulai dari Kampung Bungin, desa Pantai Bakti, kecamatan Muaragembong, semoga yang dikreasikan oleh mahasiswa menjadi monumen penting tentang revolusi pemanfaatan energi terbarukan, semoga.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *