Bonus Demografi Dan Memanfaatkan Tren Green Jobs Saatnya Milenial Menjawab Tantangan Zaman

 Pekerjaan yang bisa dilakukan milenial dan tren itu bernama Green Job(dok Koaksi Indonesia)

 

 

Bertahun tahun energi fosil digunakan untuk kepentingan berbagai industri di dunia, namun fakta yang di dapat, selain memang membantu umat manusia untuk melakukan mobilitas, pemakaian emisi gas alam membuka celah  adanya polusi udara yang merugikan ummat manusia, saat ini pun mulai dipikirkan penggunaaan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dengan ketersediaan energi yang tak pernah usai dengan keuntungan lain yakni tidak adanya limbah yang membebani lingkungan.

Trend energi terbarukan memang sebuah keniscayaan, perubahan pasti terjadi, ada beberapa jenis pekerjaan yang menghilang ketika energi fosil lambat laun mulai ditinggalkan, namun berpuluh pilihan pekerjaaan akan tersedia dan inilah Green Jobs yang bisa dimasuki kaum milenial, karena pada dasarnya semua orang memiliki peluang yang sama tinggal bersiapkah kita menyambut arah perubahan.

Sebagian dari kita sangat mungkin asing mendengar istilah Green Jobs, bahkan penulis pun baru ngeh tentang Green Jobs ketika ikutan meeting zoom yang terselenggara berkat kerja sama Coation Indonesia dan Komunitas Indonesian Social Blogpreneurs mengupas trend pekerjaan dunia, serta green economi secara runut termasuk peluang usaha bagi anak anak muda untuk menyelami yang namanya green job dan meraup cuan di era kekinian namun tak abai dengan lingkungan hidup. Makasih banget nih untuk Ibu Siti Koitimah dari Coation Indonesia, tentu saja tak lupa The Ani Berta yang menjadi moderatornya.

Negara negara maju ternyata concern untuk urusan green economy, mereka menyiapkan keuangan untuk menghasilkan dan meningkatkan energi bersih seraya membangun infrastrukturnya. Korea Selatan telah menyiapkan 61 milyar USD dalam rentang 2020-2025 dan mereka memprediksi kapasitas energi tersebut meningkat 42,7 GW di tahun 2025, jauh melesat dibanding tahun 2019 yang hanya menghasilkan energi 12,7 GW.

Bonus Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

Lansiran United Nations Development Programme(UNDP) menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia(IPM) di Indonesia berada pada peringkat 113 dari 188 negara. Bukan peringkat yang mumpuni memang, dengan sesama negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam serta Singapura. Peringkat Republik Indonesia masih kalah, ada harapan bahwa bangsa Indonesia akan merangkak naik peringkat dengan bonus demografi sehingga ada perbaikan dalam Indeks Pembangunan Manusia semakin meningkat.

Secara jumlah masyarakat usia produktif lebih banyak, pertumbuhan ekonomi  dan pembangunan Indonesia meningkat, adanya kesempatan kerja adalah gambaran cemerlang bonus demografi yang akan dialami Indonesia yang terjadi di tahun 2020-2030. Di balik gegap gempita akan hadirnya bonus demografi menjelang perayaan 100 Indonesia Merdeka pada tahun 2045, angkatan kerja di Indonesia bisa optimal, benar benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Yuk dengan terbukanya peluang Green Jobs, siapkan kemampuan terbaik agar nantinya bonus demografi yang bahkan negara negara seperti China, Jepang atau juga Russia tak punya keuntungan seperti yang kita miliki saat ini, jangan sampai bonus demografi menjadi bencana demografi.

Meniti Kesuksesan Dengan Green Jobs

Angkatan kerja di Indonesia 90% adalah lulusan Sekolah Menengah Atas atau Sederajat, sisanya yang 10 % adalah lulusan perguruan tinggi, akankah kurikulum pendidikan negara Indonesia memberi porsi untuk peluang green job? Bukan saatnya kita berpangku tangan bahwa kenyataannya era 4.0 berada di depan mata, di mana dibutuhkan keterampilan dan juga keilmuan yang memadai agar mampu beradaptasi dengan internet of things(IoTs). Penghasilan yang layak bagi generasi milenial adalah harapan besar, dengan besaran pendapatan yang diperoleh maka kesejahteraan yang di cita citakan para pendiri bangsa dapat terwujud.

Belum lagi tarik ulur serta pro kontra tentang Undang Undang Cipta Tenaga Kerja yang beberapa waktu lalu memanaskan polemik tentang keberadaannya di Indonesia namun di sisi lain bahwa Green Jobs yang merupakan harapan milenial mendapatkan pekerjaan menjadi sebuah prioritas. Faktanya di sektor industri tenaga kerja adanya penyusutan pekerjaan seperti yang terjadi di sektor perkantoran dan adminitrasi, kontruksi, legal administrasi, manufaktur dan produksi.

Adakah harapan meraih pekerjaan? Era kini adalah Green Jobs yang memberikan harapan bagi kaum milenial mendapatkan pekerjaan sekaligus melestarikan lingkungan, ingat ya bumi yang kita miliki hanyalah satu, bisa di coba bidang pekerjaan yang merupakan bagian dari Green Jobs seperti konstruksi hijau, efisiensi energi, urban farming, transportasi rendah karbon, energi terbarukan atau juga bisa di coba manajemen sampah.

Nah saatnya anak muda unjuk kemampuan, jangan minder, ada beberapa peluang bagi kalian untuk mendapatkan jenis pekerjaan yang menjadi passion. Bahkan badan PBB yang ngurusi tenaga kerja, International Labour Organitation bahwa Green Jobs merupakan keniscayaan untuk menjaga lingkungan, uniknya lagi bahwa Green Jobs ini bisa kita terapkan sektor pekerjaan, jika ada korporasi yang di satu sisi boros kertas, nah saaatnya penghematan kertas dengan menggunakan kertas yang bisa penggunaan bolak balik, atau juga di coba deh kertas tersebut di ganti dengan cara elektronik, bisa dong!

Yuk ah kaum milenial untuk bisa menciptakan lapangan kerja baru, ekonomi pun berputar dan yang paling penting adalah keberlanjutan hidup di planet biru ini akan terus berlanjut, saatnya buka mata dan pikiran kita bahwa pekerjaan masa depan bagi ummat manusia adalah Green Jobs.

Pengoptimalan Energi Potensial Di Indonesia

   Sumber energi di Indonesia yang melimpah adalah sebuah berkah(dok:Koaksi Indonesia)

 

Indonesia yang sama sama kita cintai memiliki anugerah tak terkira untuk potensi energi terbarukan, garis pantai Indonesia mencapai 95,181 Km, luas perairan laut 5,8 juta kilo meter. Sang Mentari rajin menyapa tanah air dan menghasilkan radiasi 1800 kWh/m2 pertahun, belum lagi potensi energi bayu atau angin, panas bumi hingga bioenergi, semua itu dimiliki oleh Indonesia. Ini adalah modal awal yang begitu melimpah, sayang sekali jika yang kita miliki hanya sekedar angka angka statistik namun belum optimal dalam pengunaan energi potensial di tanah air.

Negara negara maju  yang tak memiliki sumber daya mumpuni seperti Indonesia dimana hampir semua energi terbarukan di miliki oleh kita. Lihatlah negerinya Pangeran Charles, Inggris bukan melulu ngetop tentang English Premiere League yang di tonton jutaan pecinta bola, negeri ini tidak main main lho. Tahun 2050 mereka ingin menikmati bersih nol emisi gas rumah kaca. Kerennya lagi dana dibenamkan mencapai 2 miliar poundsterling untuk meemberi dukungan pemilik rumah dan tanah agar rumah mereka lebih hemat energi, hal ini mendukung 100.000 Green Jobs.

Negeri Bavaria yang beken dengan Bundesliga, Jerman tak main main untuk menciptakan hidrogen hijau, gelontoran 130 milyar Euro bukti sahih bahwa Jerman serius dalam perbaikan hijau dan juga ekonomi rendah karbon, mereka serius mendapatkan “hidrogen hijau” suatu sumber energi yang membantu bahan bakar industri, ada 626.000 lapangan kerja di Jerman pada tahun 2023, angka angka yang mentereng membuat kita kok jadi iri ya?

Indonesia sebenarnya di RPJM 2020-2024, ada rumusan  tentang pembangunan rendah karbon yakni Green idustry develompent, Waste Management, sustainable land restoration dan juga Sustainable energy development(new and renewable energy, energy efficiency and conservation). Semoga saja di negeri ini pengoptimalan energi potensial membuat rakyat pada umumnya menikmati dan juga memperoleh manfaat.

 

Sumber tulisan:

 

www.kompas.com

Meeting zoom Koaksi Indonesia bekerjasama dengan ISB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *