Bersih Jernih Canggih, Pemanfaatan Frekuensi Publik Bagi Industri Penyiaran

Modi si maskot TV digital(sumber poto: twitter siaran digital indonesia)

 

Jalan panjang hadirnya siaran tivi analog di tanah air tercinta dimulai ketika siaran TVRI untuk Asian Games keempat yang diselenggarakan di Jakarta. 24 Agustus 1962, pukul 14:30 WIB menjadi babak baru penyiaran televisi di Republik ini. Namun deretan kenangan tentang siaran televisi analog kini akan menjadi cerita indah. Seiring perkembangan teknologi, televisi analog akan menuju kotak kenangan, menyambut dengan gembira hadirnya TV digital dengan segala keunggulan yang dimilikinya.

Tahu nggak sih gaes bahwa televisi analog itu berada di frekuensi 700 MHZ, dan ternyata penggunaan frekuensi televisi analog keitungnya boros lho, sebagai perbandingan nih, pita frekuensi dengan lebar 8 MHz hanya kepakai untuk satu saluran televisi.

Bandingkan jika yang memakainya TV digital di lebar yang sama namun bisa digunakan sembilan hingga  hingga dua belas saluran, lebih efektif, mengingat frekuensi 700 MHZ pun bisa digunakan untuk telekomunikasi, terutama broadbrand yang berhubungan dengan koneksi internet.

Tahu dong saat ini ketika pandemi Covid-19, saat semua kegiatan dilakukan secara online dengan internet sebagai ujung tombak, semakin jaringan internet dipergunakan, maka defisit broadbrand akan terjadi, inilah mengapa percepatan TV digital semakin perlu agar internet di negeri ini tidak semakin melehoy alias lemot.

Migrasi TV Digital Sejarah Dalam Genggaman

Analog Switch Off(ASO) bukanlah senjakala bagi dunia penyiaran di Indonesia, namun menjadi titik awal hadirnya televisi digital, luar biasanya adalah kehadiran TV digital bukan melulu tentang era baru yang akan dijejaki bersama namun ada sisi ekonomi yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Migrasi televisi analog ke TV  digital merupakan berkah tersembunyi bagi 23 titik kawasan perbatasan. Secara cerdas pemerintah melakukan lebih dahulu migrasi televisi analog ke TV digital, menutup areal kawasan blank spot. Berbahagialah penduduk yang berada di kawasan perbatasan yang menjadi pertama dalam penghentian siaran televisi analog.

Perkiraan kalkulasi dari dampak pengalihan siaran televisi analog ke TV digital, adanya peningkatan bukan pajak sebesar 77 trilliun rupiah, peningkatan PDB nasional sebesar 433,8 triliun. Selain itu ada 181 ribu kegiatan usaha baru dan 232 ribu penambahan lapangan kerja baru.

Terbetik kabar bahwa masyarakat kawasan perbatasan kerap menerima siaraan dari negeri jiran, hal ini dikarenakan mereka telah lebih dahulu menggunakan TV digital, seakan memang datangnya momentum digitalisasi siaran sepertinya terlambat, namun saat ini pemerintah terlihat lebih serius untuk bersiap menuju TV digital.

Saatnya penduduk kawasan perbatasan menikmati siaran TV digital dan di rumah rumah mereka, siaran televisi nasional menjadi bagian dari tontonan yang dinikmati, bukan melulu siaran televisi negara tetangga yang secara budaya dan wawasan kebangsaannya pun berbeda dengan Indonesia.

 

“Semut” Di Tivi Dan Canggihnya Teknologi

 

Nonton Olimpiade Tokyo 2020 dengan televisi analog(dok pri:tangkapan layar stasiun Indosiar)

 

Acapkali merasa jengkel ketika menonton televisi namun kualitas gambar seperti dirubungi ratusan semut, suara pun seperti “ngresek”. Hal itu memang wajar ketika siarannya analog, kelemahan siaran analog di satu ketika akan menjadi cerita masa lalu. Saat ini memulai dengan eranya TV digital.

Keunggulan TV digital yang bisa dinikmati adalah gambar yang jernih, bersih dan berbasis balutan teknologi canggih yang memanjakan penonton. Generasi saat ini mungkin beruntung merasakan lompatan teknologi di dunia penyiaran televisi dengan hadirnya TV Digital.

Dengan jangkauan bandwidth lebih luas TV digital memiliki keuntungan yaitu kualitas gambar lebih jernih. Secara head to head, TV Analog yang memiliki sinyal radio, dengan pembagian format audio dan video. Sedangkan TV digital menggunakan sinyal data informasi, dengan menggunakan kode binari 1 dan 0. Kode binari inilah yang diterjemahkan sebagai gambar dan suara.

Senang juga ya pada akhirnya penonton Indonesia akan memiliki TV digital yang merupakan teknologi kekinian yang bisa di nikmati tanpa perlu kuota internet, nggak perlu iuran bulanan dan juga pasang antena parabola. Cukup memakai set top box, teknologi DVB-T2 maka siaran TV digital bisa dinikmati.

 

Saatnya Cerdas Memanfaatkan Frekuensi Publik

Pernikahan selebriti dengan durasi tayang berjam jam dan kerap mendapatkan keluhan dari masyarakat, bahwa stasiun televisi selayaknya proposional untuk menyiarkan tayangan hiburan dan juga tayangan yang mengedukasi penonton di tanah air.

Hadirnya TV digital seakan menjadi harapan baru bagi pemirsa. Sehingga kebermanfaatan frekuensi publik benar benar terasa oleh penonton. IDN Research Intitute pada tahun 2020 lalu menyebutkan bahwa 89 % penonton lebih percaya informasi dari televisi dibanding informasi yang berasal dari internet.

Ini merupakan harapan penonton tanah air agar industri penyiaran mampu memunculkan informasi bernas,aktual dan tanpa bumbu bumbu hoax. TV digital yang akan didapatkan masyarakat Indonesia merupakan ujung tombak penyiaran yang berimbang yang tentu saja tetap mengedepankan nilai nilai luhur dalam penyiaran dan penayangannya.

 

Meningkatkan Minat baca Dengan Konten Kreatif TV Digital

Budaya nonton di Indonesia kerap dituding menjadi rendahnya minat baca, Organization for Economic Coperation and Development pada tahun 2019 menyebutkan bahwa literasi Indonesia menduduki peringkat 62 dari 72 negara yang di survey. Badan PBB, UNESCO menyebutkan idealnya setiap orang memiliki 3 buku pertahunnya.

Rasio nasional jumlah bacaan di Indonesia bertengger di angka 0,0 yang berarti satu buku di baca 90 orang setiap tahunnya, ini merupakan pekerjaan rumah agar literasi di tanah air tak berada di deretan bawah. Mampukah budaya baca berjalan seiring dengan budaya nonton?

Keungulan televisi adalah mampu menampilkan gambar visual dan suara yang dapat didengar, tak heran jika televisi menjadi salah satu hiburan bagi masyarakat. Data Nielsen tahun 2020 menyebutkan, rata rata penonton Indonesia menghabiskan waktunya dengan menonton televisi di kisaran tiga jam empat menit.

Dengan hadirnya TV Digital tentu saja siarannya semakin kompetitif dan konten kreator  televisi melakukan inovasi program, salah satunya membuat konten dengan adaptasi karya karya roman legendaris  seperti Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal van der Wijk atau karya sastra penulis Angkatan Pujangga Baru, Balai Pustaka atau Angkatan 45.

Di angkat ke layar kaca dengan bumbu cerita dan racikan yang pas, karya karya penulis kesohor tanah air, semoga akan menjadi jalan pembuka generasi milenial untuk gemar membaca karya karya klasik penulis Indonesia.

Ada banyak cara agar budaya baca dan budaya nonton bersinergi, apalagi dengan hadirnya siaran TV Digital yang memiliki keunggulan dibanding TV analog, bagi pemirsa ditanah air hadirnya TV Digital merupakan berkah tersendiri, maju terus TV Digital Indonesia!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *