Menyambangi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Tempat berkumpulnya seniman dan juga pecinta seni, saat kali pertama bertandang ke Taman Ismail Marzuki(TIM), malah nonton layar tancep gitu deh hehe. Saat itu TIM lagi bebenah untuk pengerjaan revitalisasi.

Yang kedua saat penganugerahaan pemenang lomba kritik film, nah yang terakhir nih Mang Admin ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, di Gedung Ali Sadikin,lantai 4.

Saat peluncuran novel Kelir dan Prasa, karya Yon Bayu Wahyono. Sekalian saja menikmati dokumentasi sastra, ternyata tempatnya oke banget.

Nggak sia sia dari Cikarang menuju Stasiun Tanah Abang, terus dilanjut naik Trans Jakarta yang melintas dan berhenti di halte depan TIM.

Memasuki Gedung megah Ali Sadikin, berjalan pula Mang Admin, meski sedikit kikuk dan bertanya kepada petugas, akhirnya sampai juga di lokasi. Eit jangan ragu bertanya ya, karena petugasnya responsif dan ramah.

Karena acaranya belum di mulai,Mang Admin menyempatkan jelajahi Ruang Dokumentasi Sastra HB Jassin, saat pertama masuk, kita akan di sambut “gerbang” kayu dengan dua lampu sorot.

Ada poto poto HB Jassin dalam beragam pose dan tahun poto tersebut di buat, ada juga meja registrasi untuk para pengunjung, ya semacam mengisi buku tamu gitu deh.

Naskah Buku Bumi Manusia dengan tulisan tangan bertinta merah(dokpri)

Ternyata tempat bernama PDS HB Jassin, cozy abis deh, ada ruang pertemuan yang bisa nampung seratus orang, dan tentu saja koleksi “mahal” ratusan karya sastra bangsa Indonesia.

Kliping Koran Penguak Sejarah

Berita seputar peristiwa G 30 S/PKI(dokpri)

 

Dengan segala perjuangannya untuk mendokumentasikan literasi yang pernah terjadi di tanah air, patut bersyukur ada putera terbaik bangsa.

Mau bersusah payah mengumpulkan koran, majalah, korespondensi hingga pernak pernik tulisan, jadi deh Mang Admin menikmati koran koran jadul, yang kertasnya saja telah menguning.

Ada juga potongan kliping surat kabar, tentang berita kemenangan Tim Thomas Cup Indonesia di dekade tahun 50an dan 60an.

Ketekunan Hans Bague Jassin memang total banget kalau menyangkut dokumentasi,pria kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917 ini memang ciamik, sejak tahun 1933 HB Jassin telah rajin mengumpulkan karya karya sastra.

Nggak tanggung-tanggung sih koleksi PDS HB Jasin saat ini, ada sekitar 170.000 koleksi yang terdiri dari majalah, kliping, korespondensi pribadi HB Jasin,puisi, essay, hingga buku-buku. Pokoknya ketika Mang Admin berada PDS HB Jassin terasa ada kebanggaan, bahwa bangsa ini punya harta karun literasi, generasi seperti kita mengenal sastra dan juga cara tata kelola arsip.

Ada juga koran yang memberitakan tentang peristiwa Gerakan 30 September 1965, pemberontakan Partai Komunis Indonesia, huru hara politik yang paling dramatis dalam sejarah bangsa Indonesia.

Pentingnya mendokumentasi arsip, menjadi pembelajaran, patut berterima kasih kepada sastrawan Ajip Rosidi yang menginisiasi Yayasan Dokumentasi HB Jassin, hingga pada 30 Mei 1977, resmi pula hadirnya Pusat Dokumentasi HB Jassin.

Jangan Abaikan Korespondensi

Ini nih bukti korespondensi yang pernah dilakukan seniman(dokpri)

Era kekinian surat menyurat sepertinya menjadi hal yang rada rada gimana gitu, cukup melalui email, semuanya beres, namun di tahun tahun sebelum maraknya internet, surat menyurat menjadi kelaziman untuk bertukar informasi.

Di PDS HB Jassin bisa kita lihat bagaimana serunya berkorespondensi, seperti yang dilakukan Pramudya Ananta Toer,salah satu sastrawan terkemuka tanah air, dalam hal ini HB Jassin dan Pramudya kerap berkirim surat, interaksi mereka di mulai pada tahun 1940an.

Di PDS naskah Bumi Manusia dengan keterangan tahun 1975, ada tulisan tangan dengan tinta merah, tulisannya juga ala ala zaman dahulu gitu deh. Duh kalau waktunya bisa lama mah, pengennya mah nginep gitu deh di PDS HB Jassin hehe.

♦TIM Tempat Seru Buat Nongkrong♦

Ada bala bala(gorengan) segede gaban dengan sambal kacang enak di belakang TIM(dok:Muthiah Alhasan)

Salah satu blogger temannya Mang Admin, ngomong nih bahwa dia lebih suka suasana Taman Ismail Marzuki sebelum direvitalisasi atmosfirnya seru buat nongkrong, nggak banyak gedung yang menjulang seperti saat ini.

Karena Mang Admin mah baru banget ngerasain suasana TIM, jadi nggak bisa apple to apple ngebandingin TIM yang sesudah atau sebelum revitalisasi, namun bagi Mang Admin mah, masuk TIM dan mengitari lokasinya, saat ini ya asyik asyik aja buat nongkrong.

Dipojokan TIM ada juga beberapa tanda tangan seniman seniman tanah air dengan tagar “SaveTamanIsmailMarzuki”, by the way,setelah revitalisasi TIM kelihatan kinclong dan seru buat nongkrong. Yang belum ke TIM, ayo agendakan buat main ke tempat legend di Jakarta.

Perpustakaan TIM Bikin Mupeng

Salah satu daya tarik TIM adalah perpustakaan, jujurly ini yang bikin Mang Admin mupeng alias muka pengen, duh andai saja rumah dan TIM deket, mungkin tiap hari deh baca baca di perpusnya TIM.

Bisa bikin kartu anggota di tempat dan juga bisa baca baca koleksi bukunya,Mang Admin pernah ke Perpustakaan Nasional yang dekat Monas itu lho, di TIM perpusnya nggak kalah mentereng lho.Tempatnya kondusif banget buat baca.

Bikin surprise adalah saat ngelihat generasi milenial dan Gen Z, sebagian besar “menguasai” tempat di perpustakaan TIM, kaget banget, mereka yang terbiasa mainin gawai masih mau banget baca buku fisik, keren banget dah lihat pemandangan indah ini.

Jadi mikir deh Mang Admin, sebenarnya di negeri ini yang katanya urutan paling bawah negara yang malas baca atau apa deh gitu, minat literasinya rendah. Mungkin bukan melulu mereka malas baca. Tapi memang bacaannya nggak ada.

Jadi inget masa lalu Mang Admin, padahal dahulu tuh senang baca, eh tapi perpusnya di kunciin melulu, sekalinya di buka waktu baca terbatas.Semoga saja sih perpustakaan TIM menjadi oase Generasi Z membuka jendela dunia melalui baca buku.

Pokoknya senang banget deh mampir ke Taman Ismail Marzuki, eit kalau mau kulineran ada juga kok kantin di sini, di pojokan TIM ada lho warung yang punya bala bala dengan ukuran ekstra besar, plus di kasih bonus sambel kacang.

Mang Admin belum cerita juga tentang Masjid yang berada di TIM, nanti deh ditulis liputan masjid Amir Hamzah, yang lokasinya ciamik banget. Bagi pecinta literasi dan seni,pas banget deh kalau main ke TIM, gratis kok, yuk ditunggu ya!

Taman Ismail Marzuki mempunyai Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, tempat terlengkap informasi sastra di Indonesia,terbesar di dunia,yuk jelajahi keseruannya
8 Komentar Tambahkan milikmu
  1. MasyaAllah, abah HB Jassin. beneran penasaran sih sama dokumen-dokumen peninggalan beliau. Salah satu sastrawan yang karyanya aku juga suka banget, dan salah satu kritikus sastra yang paling oke sih, pantes banyak sastrawan Indonesia yang berguru ke beliau..

  2. Seru ya di TIM, jadi banyak wawasan literasi yang didapatkan.
    Sepertinya kalau hanya seharian bakal terasa kurang ya. Bisa bolak-balik deh, apalagi juga lokasinya terjangkau dari stasiun

  3. Wah seru ya di Taman Ismail Marzuki, saya belum pernah kesana sih jadi ya belum tahu perbedaannya antara sebelum dan sesudah revitalisasi. Pastinya beberapa bagian yang rusak sudah diperbaiki, yang lain mungkin tergantung selera ya

  4. hidup di Jakarta sangat seru kalau pas naik MRT buat jalan-jalan di tempat menarik ya. beberapa kali baca review teman-teman bikin mupeng. ingin tahu sensasinya bagaimana. hhhhe. Apalagi untuk sambang tempat sastra yang bersejarah ini. Bisa bikin banyak cerita

  5. waduuhh, ternyata di daerah lain pun juga sama ya, ada perpus tapi kadang eh seringnya tuh perpustakaan ditutup, giliran buka eehh cuma boleh baca beberapa saat doang, masih kurang banget jam bukanya, huhuhuh.
    jadi penasaran nih pengen ke TIM juga, masukin wishlist kalau ke Jakarta lagi harus ke TIM juga.

  6. Saya cukup antusias jika ada tempat umum yang mendukung literasi baca tulis khususnya. Benar seperti pernyataan Bapak bahwa bisa jadi bahan bacaannya nggak ada. Seperti saat menyusun skripsi dulu. Saya butuh referensi, tapi sayang sekali sumbernya susah sangat dicari.

  7. Udah lama ada di seputaran jabodetabek, tapi aku belum pernah kesini. Duh kmana saja aku iniii 🙁 Harus bisa diagendakan ke sini karena memorable bangett

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.