Kurupuk Sambel Jajanan Rakjel nan Legendaris

Kurupuk sambel selalu ngangenin untuk dinikmati(dokpri)

Ada nostalgia yang tak pernah lekang oleh waktu, penganan yang sangat biasa di waktu kecil, biasanya hadir saat hajatan warga, pedagang musiman akan menjajakannya, atau ketika Ramadan tiba, jelang waktu berbuka bersanding dengan kolak serta cendol.

Menarik pembeli untuk mencicipi
Jajanan terdiri dari kerupuk atau logat daerah Kuningan menyebutnya sebagai ‘kurupuk’ serta hadirnya sambal yang bikin kesengsem, bukan sambal untuk menemani lauk nasi, sambal yang agak encer dan bukan pekat karena baluran cabe.

Sambel dage atau orang kerap menyebutnya oncom, konon bahan ini adalah sisaan olahan tahu atau tempe, dengan teknik peragian tertentu, lahirlah dage yang menjadi alternatif pangan bagi masyarakat Kuningan. Sambel plus kurupuk bersanding seia sekata, apa lagi bila rasa lada atau pedas.

Tak lengkap kalau belum ada sambel dage(dokpri)

So pasti keringat membanjir, malah disini kenikmatan berasal, hampir di setiap desa di kabupaten Kuningan punya kuliner ini. Kerupuknya juga kerupuk biasa kita kenal, yang digoreng di kuali dengan minyak panas.

Tapi kerupuk yang digoreng bersama pasir, tanpa minyak yang dahulu relatif mahal bagi masyarakat. Nama kerupuknya cukup populer di daerah Kuningan dan sekitarnya. Bahkan menjadi oleh oleh khas, bersama tape daun jambu serta si Jeniper alias jeruk nipis peras.

Tahu dong ada kerupuk yang digantung, warnanya mencolok warna warni, ibarat pelangi di sudut senja setelah hujan usai, nah kerupuk melarat ini yang menjadi maskot agar nama Kurupuk Sambel menjadi penganan legendaris, semua rakyat jelata rasanya sudah merasakan lezatnya penganan ini.

Dipincuk daun pisang, kerupuk melarat yang sebenarnya dari dahulu ingin disebut anak gedongan, tapi nasib tetap saja melarat dan dikonsumsi rakyat jelata, namun soal kelezatan, boleh diadu dengan kuliner yang keluar dari dapur hotel bintang lima.

Kerupuk disiram sambal dage, ada air airnya di sambel, ada suara mendesis, kerupuk kena air pastinya renyahny berkurang, namun meski suara kriuknya tak kencang lagi, bumbu dage yang meresap menjadi kekuatan rasa.

Teringat kembali masa-masa disaat masalah terbesar dalam hidup, hanyalah menyelesaikan peer matematika, dari pada suntuk jajan dulu kurupuk sambel di pojokan sekolah. Makan barengan sama teman-teman.

Pedasnya sambal dage yang bikin bibir mendadak dower, sudah tak dirasa, ngunyah cepat agar si kurupuk sambal tak di sikat teman lebih dahulu, bila kerupuk habis dan sambalnya masih melekat di daun, ujung tangan bertugas aktif menyapu sisa dage, duh manisnya momen yang tak bisa di ulang.

Kini kurupuk sambel masih eksis, salah satu warung di dekat rumah menjajakan juga, warung Ceu Sawinah yang bikin sambelnya klepek klepek, tak dipincuk daun pisang seperti zaman baheula, namun menggunakan kertas nasi.

Harganya pun nggak Rp 25 lagi lho gaes, start from Rp 2.500, atau boleh paketan seharga Rp 12.000, mendapatkan satu plastik serta kondimen berupa sambel dage, asyik dong masih bisa menikmati jajanan yang mengingatkan kehidupan di masa kecil.

Bersyukur bahwa tetua dulu, mewarisakan kuliner secara bersiasat, zaman susah karena minyak goreng sangat langka, tercipta inovasi yakni kerupuk yang dibuat tanpa minyak goreng, kok bisa ya kepikiran media gorengnya malah pasir, benar out the box.

Konon katanya keterpepetan, sanggup membuat inovasi, sejarah kurupuk sambel juga begitu dan akhirnya sukses menjadi penganan yang digemari masyarakat.

Rasanya ya enak gimana ya,kerupuk melarat punya tekstur renyah dan garing, kalau dimakan juga keluar bunyi yang lumayan keras…krek….krek gitu deh.

Beruntungnya eksistensi kerupuk melarat tetap teruji, meski dibuat dengan bahan yang sederhana dan digoreng dengan media pasir, namun penggemarnya tak pernah putus. Tengok saja jika melintas di daerah Pantura, ikatan yang bergelantungan pinggir jalan.

Kerupuk melarat tetap eksis meski zaman telah berubah, semua tetap suka dan diburu sebagai oleh oleh. Begitu juga dengan keberadaan dage, si merah yang warnanya oranye kemerah merahan, tetap laku dipasaran dan berbagai kalangan suka. Penganan warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu.

Cung yang disini belum icip icip kurupuk sambel, rasanya perlu sekali dalam hidup untuk menikmatinya, rasa pedas gurih dari sambel dage, dipadukan renyah dan garing duh gimana gitu. Tapi soal kandungan gizi memang yang paling tahu, para ahli gizi.

Sebagai oleh oleh, kerupuk melarat oke juga lho(dokpri)

Perbedaan kerupuk yang menggunakan minyak, dengan kerupuk yang menggunakan pasir tentu akan berbeda. Namun yang jelas, kurupuk sambel selalu menerbitkan nostalgia. Saatnya kini melestarikan kuliner. Ada banyak ragam item makanan dan minuman.

Yeay si kurupuk yang garing dan renyah, digoreng dengan cara unik(dokpri)

Bahkan di satu kabupaten, ada beragam makanan atau minuman yang berbeda, ini kekayaan kuliner yang menjadi modal bahwa, Indonesia tuh untuk urusan kuliner bukan kaleng kaleng, kurupuk sambel dengan aroma sambal yang menggoda, banyak ditemukan sebagai jajanan di daerah Kuningan.

Tentu ada nama lain yang mungkin makanannya sih relatif sama. Duh ketika kurupuk sambel ada di depan mata, tanpa basa basi, kerupuk yang warna warni, di cocolin ke sambel dage. Enaknya nampol pisan euy, yuk dicoba kerenyahan nan legendaris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.