Kehidupan manusia selalu terhubung dengan namanya plastik, ketika berbelanja di warung kelontong, “tas kresek” akan di sodorkan penjual sebagai wadah belanja, kemasan makanan dan minuman terbuat dari plastik.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional(SIPSN),menyebutkan timbulan sampah di tanah air pada tahun 2023 mencapai 38.315.969, 64 ton pertahun, 19,16% adalah sampah plastik.
Persoalan sampah plastik seakan menjadi momok yang menakutkan di negeri tercinta ini, yang mengkhawatirkan adalah, ketika sampah plastik tersebut membanjiri lautan, catatan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa Bangsa(UNEP), ada 1,2 juta ton sampah di tanah air yang menggelontor ke lautan, menjadikan Indonesia adalah negara kedua terbesar setelah China, sebagai negara penghasil sampah laut di dunia.
Bukan saatnya untuk saling menghujat siapa yang salah dalam mengelola sampah plastik, saatnya berinovasi agar tumpukan sampah plastik tidak semakin membahayakan lingkungan, Salah satu hal yang inovatif, telah di lakukan oleh Ayu Pawitri, menjaga lingkungan dengan cara yang unik.
Yakni melalui Pengolahan Sampah Plastik Jadi BBM Dengan Inovasi Teknologi Sederhana, apa yang di lakukan Ayu Pawitri dengan karya kerennya tentang pengolahan sampah plastik, di ganjar penghargaan Satu Indonesia Award Provinsi tahun 2019.
Bersama Yayasan Get Plastik Indonesia, Ayu Pawitri yang merupakan Direktur Pelaksana menggaungkan kampanye “No Plastic Goes To Waste” mengedukasi warga membawa perubahan untuk bijak dalam penggunaan plastik. Pengelolaan sampah plastik yang di lakukan oleh Ayu Pawitri dan kawan kawan, tak serta merta persoalan sampah plastik akan segera tertangani.
Inovasi adalah kunci, pengembangan teknologi berupa pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak, dikembangkan sejak tahun 2014. Inovasi tepat guna bernama mesin pyrolysis, saat ini ada 15 prototype,semoga langkah Ayu Pawitri di kemudian hari mampu membuat negeri yang kita cintai merdeka dari kepungan permasalahan sampah plastik.
Tak Ada Plastik Yang Terbuang

Bahan dasar plastik seperti bisphenol A serta ftalat, merupakan cikal bakal pembuatan botol plastik dan juga wadah makanan,kegunaan plastik sangat praktis tak heran bila plastik sangat populer,di balik ngetopnya plastik untuk keperluan manusia.
Ada bahaya yang mengintai secara nyata yakni sampah plastik, durasi terurai sempurna plastik memerlukan 100 tahun hingga 500 tahun, ini dimungkinkan karena hasil rantai panjang plastik serta sifat kimia yang stabil juga hidrofobisitas dan ikatan kovalen pada plastik.
Kota-kota besar di Indonesia mengalami kesulitan dalam timbulan sampah, Pulau Bali pun di pusingkan sampah yang dari tahun ke tahun semakin menumpuk. 50% sampah di Bali disumbang oleh tiga kabupaten yakni Badung Gianyar dan Denpasar, akhir cerita sampah dibuangnya ke TPA Suwung, dapat ditebak tempat pembuangan akhir sampah ini melebihi kapasitas.
Larangan kabupaten Badung membuang sampah ke TPA Suwung, pembuat kebijakan di Kabupaten Badung putar otak untuk mengolah sampah di wilayahnya. Sisi lain Lembaga Swadaya Masyarakat tak bisa berpangku tangan dengan masalah sampah plastik, berawal dari Desa Sibangkaja, Abiansemal, Badung, hadir Get Plastic adalah sebutan untuk gerakan tarik plastik sampah. Tahun 2017 Get Plastic Foundation berbadan hukum.
Mengusung misi nan mulia, Get Plastic mengupayakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, lebih familiar melakukan pengolahan sampah plastik menjadi BBM. Pendampingan tidak semata di pulau dewata saja, namun di daerah-daerah di Indonesia mendapatkan pendampingan, wilayah Pulau Jawa ada pendampingan di desa di Banyuwangi serta di pulau Pramuka Jakarta, Bogor,Pulau Bungin dan juga Papua telah mendapatkan pendampingan.
Perjalanan ramah lingkungan terus berlanjut, menggaungkan pesan kepada masyarakat, bahwa sampah plastik bisa menjadi energi baru serupa BBM. Bahwa permasalahan sampah plastik hari ini, jangan sampai membebani generasi berikutnya, ditinjau dari sudut ekologi sampah plastik memiliki daya rusak yang luar biasa, hari ini adalah milik generasi sekarang namun itu hanya titipan, bahwa sejatinya jika mau tak ada satu sampah plastik yang akan terbuang sia-sia.
Metoda Pirolisis Untuk Pengolahan Sampah Yang Sulit Terurai

Selalu ada jalan bagi orang orang kreatif, sampah plastik memang sulit terurai namun bukan berarti juga tak ada jalan untuk di olah menjadi barang yang berguna. Mengadopsi metoda pirolisis yang berasal dari Jepang. alat pengolahan sampah plastik dengan metode dekomposisi,proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen dan pereaksi kimia lainnya.
Cara kerja mesin pirolisis yaitu menggunakan distilasi kering, sehingga dalam proses pemanasannya tidak ada asap yang keluar, Get Plastik berupaya mengembangkan kemampuan dengan mendesain mesin yang mengubah sampah plastik 1: 1 menjadi pyrodiesel. Hebatnya lagi protype mesin pirolisis yang dikembangkan Get Plastic mendapat rekor MURI untuk proyek inovatif dan berdampak.
Dekomposisi menghasilkan bahan bakar solar serta bensin, saat ini mesin pirolisis besutan Get Plastic terbuat dari material stainless steel, agar alat tersebut memiliki masa pakai lebih lama, kuat dan tahan lama. Adapun komponen yang menjadi bagian mesin terdiri dari kondensor, tabung penyimpan minyak, serta penyaring gas dengan teknik hydrokarbon.
Get The Fest Suara Nusantara Untuk Peduli Sampah Plastik

Bahasa musik adalah bahasa universal, mudah di mengerti oleh beragam kalangan, hebatnya adalah kan dukungan para musisi tanah air, hal hebat yang dilakukan mereka dengan ikut gabung dalam festival musik. Uniknya festival dengan titel Get The Fest,merupakan festival musik di Indonesia dengan sumber energinya adalah sampah,ini juga merupakan lompatan mengolah sampah, Get The Fest akan di adakan pada tanggal 25-27 Oktober 2024 di Tebing Breksi Jogjakarta.
Get The Fest di Jogjakarta bukan yang pertama, karena sebelumnya pada Oktober 2022, kota yang disinggahi festival musik pertama menggunakan energi dari sampah adalah kota Bogor, Madiun dan Denpasar. Bikin greget dari festival ini adalah suplai solar berasal dari mesin pirolisis, bahan bakarnya berasal dari sampah plastik, pulau Bali menjadi tempat terakhir festival, selama 24 jam gelaran Get The Fest, 420 liter solar menopang energi dalam malam puncak kegiatan.
Tak melulu festival dimeriahkan oleh musisi kenamaan Indonesia, penampilan Oppie, Andaresta, Nugie, Ipang Hore-Hore, Made Mawut, Novicula, Jason Ranti, Rhythm Rebel,Iksan Skuter dan juga Taman Sawangan Ukulele. Kegiatan talkshow,workshop dan community gathering, publik dibuat bahwa dari sampah plastik menyimpan energi tersembunyi yang bisa dimanfaatkan manusia.
Melalui dendang dengan aliran musik berbeda, hadurnya Get The Fest mengajarkan tentang pentingnya energi hijau, Bukan saatnya merutuki melimpahnya sampah plastik di Indonesia. Namun dengan satu langkah kecil, yakni bersikap peduli mengurangi sampah dengan cara cerdas, bahwa tak ada yang tak mungkin. Solusi kreatif sampah-sampah plastik bisa didaur ulang, menjadi bahan bakar dengan emisi rendah.